Tampilkan postingan dengan label gianyar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gianyar. Tampilkan semua postingan

0 comments

Desa Peliatan (Peliatan Village)

Published on Sabtu, 20 Agustus 2011 in


Kabupaten/Kota : Gianyar 



 
Desa Peliatan sebagai obyek wisata di Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar banyak dikunjungi oleh para wisatawan Mancanegara maupun Nusantara untuk membeli hasil kerajinan rakyat maupun menonton pertunjukan keseniannya, disamping karena letaknya sangat dekat dengan Ubud. Desa Peliatan memiliki potensi yang cukup baik dalam bidang seni budaya dan gudangnya para seniman. Di desa ini tumbuh dan berkembang dengan suburnya berbagai kegiatan seni, baik seni tari, seni patung, seni ukir maupun seni lukis. Di Desa Peliatan hidup tokoh-tokoh seni.Tokoh-tokoh seni tabuh yang cukup banyak pengalaman dan terkenal di tingkat Nasional maupun International seperti : Anak Agung Gede Mandra, I Wayan Gandra, I Wayan Gerindem dan I Made Lebah, semuanya bergabung dalam sekeha Gong Gunung Sari Desa peliatan yang cukup punya andil untuk merangsang para wisatawan lebih bergairah datang ke Bali pada umumnya maupun ke Desa Peliatan pada khususnya.

Tidak jarang diantara mereka ikut merasakan seni dan ikut berperan sebagai penabuh. Mereka belajar menari dan menabuh dengan guru-guru. Di bidang seni lukis, ukir maupun patung, Desa Peliatan juga memiliki potensi yang cukup tinggi. Perkembangan seni lukis maupun seni patung sudah berkembang sejak masuknya Agama Hindu.

0 comments

Desa Belega dan Bona

Published on in


Kabupaten/Kota : Gianyar 




Desa Belega termasuk Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar, sedangkan Banjar/Dusun Bona merupakan wilayah Desa Belega. Yang sangat menarik dari Desa Belega ini adalah, desa ini terkenal sebagai pusat kerajinan dari bambu, yang antara lain berupa : kursi, tempat tidur, meja hias, almari dan lain-lainnya.Sedangkan Desa Bona terkenal sebagai pusat kerajinan dari daun lontar dan tari kecaknya.

Hampir setiap hari Desa Belega dan Bona ini dikunjungi wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara yang ingin membeli atau memesan kerajinan bambu atau daun lontar untuk keperluan rumah tangga atau hotel/restaurant. Di samping itu Bona juga terkenal dengan tari kecaknya yang mengambil ceritera Ramayana. Setelah pertunjukan tari kecak, dipertunjukkan juga tari Sang Hyang Dedari yang ditarikan oleh 2 orang gadis kecil dalam keadaan tidak sadar (trance), dan terakhir dipertunjukkan Tari Sang Hyang Jaran, dimana seorang laki-laki menari sambil menendang bara api yang sangat besar dengan kaki telanjang.

0 comments

Desa Batubulan(Batubulan Village)

Published on in


Kabupaten/Kota : Gianyar




Tempat ini adalah sebuah desa dalam ruang lingkup Kecamatan Sukawati Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar Propinsi Daerah Tingkat I Bali. Desa Batubulan pada awalnya terkenal sebagai satu desa agraris yang kaya akan kesenian termasuk Seni Tari dan Seni Ukir. Struktur masyarakat dan kebudayaan agraris yang dijiwai oleh Agama Hindu menjadi dasar dari kehidupan masyarakat Desa Batubulan. Batubulan sangat terkenal sebagai 0byek Wisata Tari Barong yang khas.
 
Desa ini terletak pada jalur Denpasar-Gianyar kira-kira 10 km dari Denpasar dan 21 km dari Gianyar. Setiap harinya para wisatawan mancanegara maupun Nusantara menyaksikan tarian barong di lima tempat pertunjukan. Disamping itu para wisatawan juga dapat melihat para pematung batu padas membuat patung-patung untuk dekorasi rumah hotel, perempatan jalan, jembatan maupun pura.

0 comments

Bungy Jumping Blangsinga

Published on in


Kabupaten/Kota : Gianyar 



 
Dengan semakin meningkatnya kunjungan wisatawan yang datang ke Pulau Bali khususnya ke Kabupaten Gianyar, pelaku kepariwisataan harus mampu menyediakan dan mengembangkan bermacam–macam atraksi yang diperlukan untuk konsumsi para wisatawan, terutama wisatawan mancanegara. 

Untuk mengantisipasi hal itu kini di Desa Blangsinga, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten daerah Tingkat II Gianyar, tepatnya di lembah Air Terjun Tegenungan, telah berdiri Bungge Jumping, yaitu tempat atraksi bagi wisatawan yang senang terjun dari ketinggian kurang lebih 50 meter. Tempat ini sangat tepat untuk atraksi karena alam sekitarnya masih asli dan areal terjunnya leluasa, sehingga kemungkinan bahaya yang timbul sangat kecil.

0 comments

Gunung Kawi Tampaksiring

Published on in


Kabupaten/Kota : Gianyar 



 
Setelah melewati Gapura dan 315 anak tangga di pinggir sungai Pakerisan yaitu sebuah sungai yang mempunyai nilai sejarah yang sangat tinggi, terletak komplek candi Gunung Kawi. Obyek wisata ini termasuk wilayah Tampaksiring 40 km dari Denpasar. Mengenai nama Gunung Kawi ini belum diketahui dengan pasti asal mulanya. Namun secara etimologi dikatakan berasal dari kata Gunung dan Kawi, yang berarti gunung adalah daerah pegunungan dan Kawi berarti pahatan.

Jadi maksudnya ialah pahatan yang terdapat di pegunungan atau di padas karang. Menurut sejarahnya diantara raja – raja yang memerintah di Bali yang paling terkenal adalah Dinasti Warmadewa. Raja Udayana adalah merupakan dinasti ini dan beliau adalah anak dari Ratu Campa yang diangkat anak oleh Warmadewa. Setelah dewasa Udayana nikah dengan Putri Jawa yang bernama Gunapriya Dharma Patni. Dari perkawinannya ini menurunkan Erlangga dan Anak Wungsu. Akhirnya setelah Erlangga wafat tahun 1041, kerajaanya di Jawa Timur dibagi Dua. Pendeta Budha yang bernama Empu Baradah dikirim ke Bali agar pulau Bali diberikan kepada salah satu Putra Erlangga, tetapi ditolak oleh Empu Kuturan. Selanjutnya Bali diperintah oleh Raja Anak Wungsu antara tahun 1029 – 1077 dan dibawah perintahnya Bali merupakan daerah yang sangat subur dan tentram. Setelah beliau meninggal dunia abunya disimpan dalam satu candi di komplek Candi Gunung Kawi. Tulisannya yang terdapat diatas pintu semu yang berbunyi : " Haji Lumah Ing Jalu " yang berarti Sang Raja dimakamkan di Jalu" sama dengan "Susuh" dari ( ayam jantan ) yang bentuknya sama dengan "Kris" maka perkataan Ing Jalu dapat ditafsirkan sebagai petunjuk " Kali Kris " atau Pakerisan. Raja yang dimakamkan di jalu dimaksud adalah Raja Udayana. Sedangkan tulisan " Rwa Anakira " yang berarti " Dua Anaknya " kemungkinan yang dimaksud makam Raja Udayana, Anak Wungsu dan Empat orang Permaisuri Raja serta Perdana Mentri Raja. Diseberang Tenggara atau dari komplek candi ini terletak Wihara ( tempat tinggal atau asrama para biksu / pendeta Budha ). Peninggalan candi dan wihara di Gunung Kawi ini diperkirakan pada abad 11 Masehi.  

0 comments

Taman Lembu Putih dan Gajah Taro

Published on in


Kabupaten/Kota : Gianyar 



 
Di Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar, kurang lebih 40 Km. Dari Kota Denpasar, ada sebuah hutan desa yang dihuni oleh sekelompok binatang sapi/lembu putih. Binatang ini sangat dikeramatkan dan disucikan oleh masyarakat sekitarnya maupun masyarakat Bali pada umumnya, karena binatang ini merupakan sarana pelengkap (saksi) upacara di Bali yaitu Ngasti (dan yang setingkat dengan upacara itu). Lembu Putih ini dibawa ke tempat upacara dan oleh penyelenggara upacara dituntun mengelilingi areal/tempat upacara mulai dari arah timur ke selatan dan seterusnya berkeliling sebanyak tiga kali, kemudian berakhir atau selesai di timur.

Upacara ini disebut dengan Upacara Mepada (Maideran/Purwa Daksina). Setelah Upacara tersebut selesai Lembu Putih dikembalikan lagi ke hutan Desa Taro, tentunya sebelum dan sesudahnya telah disuguhi berbagai sesajian. Tetapi dengan keindahan alam pedesaan Taro yang sangat menarik, dewasa ini atas usaha seorang investor dan tentunya dengan persetujuan dari Pihak Pemerintah Daerah Tingkat II Gianyar, di sebelah areal hutan sapi/lembu putih Taro, juga telah dikembangkan sebuah atraksi wisata baru yaitu Trakking Gajah.

Para wisatawan dapat menaiki gajah berkeliling hutan dengan melewati lorong / jalan setapak di sekitar Desa Taro. Bila diinginkan wisatawan dapat berenang (bermain di air) dengan gajah didalam kolam yang sudah tersedia.